SAHATAonline: Akhalaq
Headlines News :
Powered by Blogger.

Pages

Latest Post

Showing posts with label Akhalaq. Show all posts
Showing posts with label Akhalaq. Show all posts

Apa Kata Ulama tentang Umat non Islam?

 Foto: Apa Kata Ulama tentang Umat non Islam?

Syekh Ahmad Thayyib, Syekh al-Azhar:

“Adanya dialog dan perjanjian politik dengan Yahudi yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw. di Madinah Munawwarah adalah salah satu bentuk toleransi Islam dan pengakuannya terhadap agama lain. 

Kita juga bisa melihat betapa Islam dan Nabinya memposisikan agama Kristen dengan baik. Di dalam al-Quran terdapat perkataan yang baik tentang umat Kristen, serta sejarah agung dan kedudukan Nabi Isa alaihi salam.”

Syekh Yusuf Al-Qardawy, Ketua Persatuan Ulama Dunia

“Tidak ada keraguan lagi bahwa persaudaraan atas dasar akidah Islam adalah persaudaraan yang paling kuat. Namun hal itu tidak menafikan adanya persaudaraan atas dasar kepentingan lain, seperti persaudaraan atas dasar bangsa dan negara. 

Dalilnya sangat jelas, bahwa al-Quran mensifati para Nabi dan para Rasul sebagai saudara kaumnya, padahal kaumnya belum tentu beriman kepada mereka. Ini membuktikan bahwa al-Quran mengakui adanya persaudaraan yang didasarkan atas bangsa dan negara.”

Sumber: Koran Shaut al-Azhar edisi 20 Dzulhijjah 1434 H. dan Fatawa Muashirah karangan Syekh Yusuf al-Qardawy

Syekh Ahmad Thayyib, Syekh al-Azhar:

“Adanya dialog dan perjanjian politik dengan Yahudi yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw. di Madinah Munawwarah adalah salah satu bentuk toleransi Islam dan pengakuannya terhadap agama lain.

Kita juga bisa melihat betapa Islam dan Nabinya memposisikan agama Kristen dengan baik. Di dalam al-Quran terdapat perkataan yang baik tentang umat Kristen, serta sejarah agung dan kedudukan Nabi Isa alaihi salam.”

Syekh Yusuf Al-Qardawy, Ketua Persatuan Ulama Dunia


“Tidak ada keraguan lagi bahwa persaudaraan atas dasar akidah Islam adalah persaudaraan yang paling kuat. Namun hal itu tidak menafikan adanya persaudaraan atas dasar kepentingan lain, seperti persaudaraan atas dasar bangsa dan negara.

Dalilnya sangat jelas, bahwa al-Quran mensifati para Nabi dan para Rasul sebagai saudara kaumnya, padahal kaumnya belum tentu beriman kepada mereka. Ini membuktikan bahwa al-Quran mengakui adanya persaudaraan yang didasarkan atas bangsa dan negara.”

Sumber: Koran Shaut al-Azhar edisi 20 Dzulhijjah 1434 H. dan Fatawa Muashirah karangan Syekh Yusuf al-Qardawy
- https://www.facebook.com/suara.alazhar

Bolehkan Kita Menyebut Yahudi sebagai Cucu Kera atau Cucu Babi?

 Foto: ‎Bolehkan Kita Menyebut Yahudi sebagai Cucu Kera atau Cucu Babi? 

Allah berfirman tentang kaum Yahudi dalam Surat Al-Baqarah ayat 65:

وَ لَقَدْ عَلِمْتُمُ الَّذِيْنَ اعْتَدَوْا مِنْكُمْ فِي السَّبْتِ فَقُلْنَا لَهُمْ كُوْنُوْا قِرَدَةً خَاسِئِيْنَ

“Dan sesungguhnya telah Kami ketahui orang-orang yang melanggar perintah pada hari Sabtu, maka Kami firmankan : Jadilah kamu kera-kera yang dibenci !”

Dan juga di Surat Al-Maidah ayat 60:

قُلْ هَلْ أُنَبِّئُكُمْ بِشَرٍّ مِنْ ذَلِكَ مَثُوبَةً عِنْدَ اللَّهِ مَنْ لَعَنَهُ اللَّهُ وَغَضِبَ عَلَيْهِ وَجَعَلَ مِنْهُمُ الْقِرَدَةَ وَالْخَنَازِيرَ وَعَبَدَ الطَّاغُوتَ أُولَئِكَ شَرٌّ مَكَانًا وَأَضَلُّ عَنْ سَوَاءِ السَّبِيلِ

Katakanlah: "Apakah akan aku beritakan kepadamu tentang orang-orang yang lebih buruk pembalasannya dari (orang-orang fasik) itu di sisi Allah, yaitu orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah, di antara mereka (ada) yang dijadikan kera dan babi dan (orang yang) menyembah thaghut?" Mereka itu lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat dari jalan yang lurus. 

Lalu apakah kedua ayat ini bisa dijadikan landasan untuk menyebut kaum Yahudi sebagai keturunan kera dan babi? Jawabannya tidak, karena: 

1. Kera dan babi yang disebutkan Allah pada ayat di atas tidak memiliki keturunan, sebagaimana diterangkan dalam hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, "Allah tidak memberikan keturunan kepada yang berubah bentuk. Dan (hal ini) telah terjadi dahulunya (pada orang-orang yang berubah menjadi) kera dan babi." 

2. Bahasa seperti ini sangat provokatif dan bukan sifat seorang muslim. Seorang muslim hendaknya bisa menyatukan masyarakat, bukan melakukan provokasi sehingga terjadi pertentangan.

 3. Ini adalah salah satu bentuk cacian, dan seorang muslim dilarang untuk mencaci manusia, hewan, kayu dan semua yang ada di alam raya ini.

4. Manusia tidak mendapat bagian dosa dari para nenek moyangnya. Betapa banyak kita temukan orang kafir yang anaknya muslim, bahkan sebagian orang tua sahabat Nabi adalah kaum musyrik. 

-Dikutip dari kitab "Khitabunal Islami fi 'Ashril 'Aulamah" karya Dr. Yusuf al- Qaradhawi‎

Allah berfirman tentang kaum Yahudi dalam Surat Al-Baqarah ayat 65:

وَ لَقَدْ عَلِمْتُمُ الَّذِيْنَ اعْتَدَوْا مِنْكُمْ فِي السَّبْتِ فَقُلْنَا لَهُمْ كُوْنُوْا قِرَدَةً خَاسِئِيْنَ

“Dan sesungguhnya telah Kami ketahui orang-orang yang melanggar perintah pada hari Sabtu, maka Kami firmankan : Jadilah kamu kera-kera yang dibenci !”

Dan juga di Surat Al-Maidah ayat 60:

قُلْ هَلْ أُنَبِّئُكُمْ بِشَرٍّ مِنْ ذَلِكَ مَثُوبَةً عِنْدَ اللَّهِ مَنْ لَعَنَهُ اللَّهُ وَغَضِبَ عَلَيْهِ وَجَعَلَ مِنْهُمُ الْقِرَدَةَ وَالْخَنَازِيرَ وَعَبَدَ الطَّاغُوتَ أُولَئِكَ شَرٌّ مَكَانًا وَأَضَلُّ عَنْ سَوَاءِ السَّبِيلِ

Katakanlah: "Apakah akan aku beritakan kepadamu tentang orang-orang yang lebih buruk pembalasannya dari (orang-orang fasik) itu di sisi Allah, yaitu orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah, di antara mereka (ada) yang dijadikan kera dan babi dan (orang yang) menyembah thaghut?" Mereka itu lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat dari jalan yang lurus.

Lalu apakah kedua ayat ini bisa dijadikan landasan untuk menyebut kaum Yahudi sebagai keturunan kera dan babi? Jawabannya tidak, karena:

1. Kera dan babi yang disebutkan Allah pada ayat di atas tidak memiliki keturunan, sebagaimana diterangkan dalam hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, "Allah tidak memberikan keturunan kepada yang berubah bentuk. Dan (hal ini) telah terjadi dahulunya (pada orang-orang yang berubah menjadi) kera dan babi."

2. Bahasa seperti ini sangat provokatif dan bukan sifat seorang muslim. Seorang muslim hendaknya bisa menyatukan masyarakat, bukan melakukan provokasi sehingga terjadi pertentangan.

3. Ini adalah salah satu bentuk cacian, dan seorang muslim dilarang untuk mencaci manusia, hewan, kayu dan semua yang ada di alam raya ini.

4. Manusia tidak mendapat bagian dosa dari para nenek moyangnya. Betapa banyak kita temukan orang kafir yang anaknya muslim, bahkan sebagian orang tua sahabat Nabi adalah kaum musyrik.

-Dikutip dari kitab "Khitabunal Islami fi 'Ashril 'Aulamah" karya Dr. Yusuf al- Qaradhawi
- https://www.facebook.com/suara.alazhar

Balasan Kedengkian

 
Ada seorang lelaki yang setiap hari mengunjungi raja. Setelah bertemu raja, ia selalu berkata, "Orang yang berbuat baik akan mendapat balasan, dan orang yang berbuat buruk, cukup keburukan itu sebagai balasannya."

Ada seseorang yang dengki melihat keakraban lelaki itu dengan raja. "Lelaki itu memiliki kedudukan yang dekat dengan raja, setiap hari ia bertemu raja," pikir si pendengki dengan perasaan kurang senang. Si pendengki kemudian menemui raja dan berkata, "Lelaki yang setiap hari menemuimu, jika keluar dari sini selalu berbicara buruk tentang kamu. Ia juga berkata bahwa bau mulutmu busuk." Raja terdiam.

Sekeluarnya dari kerajaan, pendengki duduk di tepi jalan yang biasa dilalui oleh lelaki yang akrab dengan raja. Ketika si lelaki itu lewat dalam perjalanannya menemui raja. Ia menghadangnya, "Kemarilah, singgahlah ke rumahku."

Setelah temannya singgah ke rumahnya, si pendengki menawarkan bawang merah dan putih, dan memaksanya agar ia memakannya. Karena dipaksa, ia akhirnya mau juga memakannya untuk melegakan hati orang itu. Bau bawang merah dan putih itu tentu tidak mudah hilang.

Selesai berkunjung ke tempat si pendengki, lelaki itu sebagaimana biasa mengunjungi raja. Sewaktu berjabatan tangan dengan raja, ia menutup mulutnya agar raja tidak mencium bau mulutnya.
"Rupanya benar perkataan orang itu, ia benar-benar menganggap mulutku bau," pikir raja. Sang raja kemudian memikirkan suatu rencana jahat.
Lelaki itu kemudian duduk dan berkata sebagaimana biasa, "Orang yang berbuat baik akan mendapat balasan, dan orang yang berbuat buruk, cukup keburukan itu sebagai balasannya."

Setelah merasa waktu berkunjungnya sudah cukup, ia kemudian pamit kepada raja. Raja berkata, "Bawalah surat ini dan serahkanlah kepada fulan." Surat itu berisi, "Jika sampai kepadamu pembawa surat ini, maka sembelih dan kulitilah dia, kemudian isilah tubuhnya dengan jerami."

Lelaki tadi keluar membawa surat raja. Di tengah jalan ia dihadang oleh si pendengki.
"Apa yang kamu bawa?" tanyanya.
"Surat raja untuk fulan. Surat ini beliau tulis dengan tangannya sendiri. Biasanya beliau tidak pernah menulis surat sendiri, kecuali dalam urusan pembagian hadiah.".

"Berikanlah surat itu kepadaku, aku ini sedang butuh uang," pintanya. Ia kemudian menceritakan kesulitan hidupnya. Karena kasihan, surat itu kemudian ia serahkan kepada si pendengki.
Si Pendengki menerimanya dengan senang hati. Setelah sampai di tempat tujuan, ia menyerahkan surat itu kepada teman raja.
"Masuklah ke sini, raja menyuruhku membunuhmu," kata teman raja.
"Yang dimaksud bukan aku, coba tunggulah sebentar biar kujelaskan," katanya ketakutan.
"Perintah raja tak bisa ditunda," kata teman raja.

Ia lalu membunuh, menguliti dan mengisi tubuh si pendengki dengan jerami.

Keesokan harinya, lelaki itu datang sebagaimana biasa dan berkata, "Orang yang berbuat baik akan mendapat balasan, dan orang yang berbuat buruk, cukup keburukan itu sebagai balasannya." Raja heran melihatnya masih hidup. Setelah diselidiki, terbongkarlah keburukan si pendengki.

"Tidak ada sesuatu yang terjadi antara aku dengannya, hanya saja kemarin ia mengundangku kerumahnya dan memaksaku makan bawang merah dan putih. Waktu aku menemuimu kututup mulutku agar kamu tidak mencium bau tidak sedap dari mulutku. Sekeluarnya dari sini, ia menemuiku dan menanyakan titipanmu," lelaki itu kemudian menceritakan semua yang terjadi.

Mendengar jalannya cerita, tahulah raja bahwa orang itu ternyata dengki kepada sahabatnya. "Benar ucapanmu, orang yang berbuat baik akan mendapat balasan, dan orang yang berbuat buruk, cukup keburukan itu sebagai balasannya."

Kedengkian di hati orang itu telah membunuh dirinya sendiri. Dengki itu merusak amal Dengki memakan kebaikan seperti api memusnahkan kayu bakar. (HR Ibnu Majah) Kedengkian seseorang hanya akan berakibat buruk bagi orang itu sendiri.

Habib Muhammad bin Hadi bin Hasan bin Abdurrahman Asseqaf, Tuhfatul Asyraf.
 
Support : KPTS MESIR | Group KPTS
Copyright © 2011. SAHATAonline - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger